chocoberry

abila’s home.

Alvaro membuka kamar dengan gantungan berukir nomor “5” di pintunya. Ia dapati sang kekasih tengah memainkan ponsel dengan posisi tidur tengkurap. Seperti biasa, Alvaro berjalan menghampiri Karel dan berbaring di atasnya—menindih. Membuat Karel yang menjadi korban mendengus kesal.

“Lo tuh kebiasaan ya Al. Bisa gak jangan nindih gua? Badan lo beraat.” tangan Karel terulur menarik rambut Alvaro, tidak terlalu kencang namun cukup membuat Alvaro meringis.

“Akh, sakit yang,”

Alvaro berpindah posisi ke sebelah Karel. Mengusap rambutnya yang menjadi korban keganasan tangan Karel.

“Maaf maaf, sini gua elusin,”

Karel berbaring menghadap Alvaro dengan posisi lebih ke atas. Meletakkan kaki di atas perut kekasihnya dan meraih kepala Alvaro untuk bersandar di dadanya sebelum mengelus rambut hitam itu.

“Bayi besar guaa,” ia menarik pipi berisi Alvaro.

“Enak yang di elusin, jadi ngantuk,”

“Tidur lah, gitu sok mau minum-minum,”

“Ini kan udah gak jadi sayangku,”

Karel hanya menjawab dengan dehaman dan lanjut mengelus rambut Alvaro.

“Kamu mulai kerja kapan yang?”

“Senin ada photoshoot. Gak ada jadwal tetapnya sih, jadi seadanya job gitu,”

Alvaro mengangguk mendengar penjelasan itu.

“Gua jadi bingung. Nanti kalau lo lagi kerja gua ngapain ya? Biasanya bareng lo terus.” Wajahnya ia dusalkan pada ceruk leher Karel. Mengecupi pundak,

cw // kissing

Mereka semua sampai di villa pukul delapan pagi. Alvaro, Elang, dan Ody langsung merebahkan tubuh di sofa karena lelah menyetir, sedangkan yang lain asik memakan camilan sambil membagi kamar mereka.

“Gua udah pasti sama cewek gua sekamar. Kita di kamar depan ya,” Elang langsung membawa pacarnya masuk ke kamar mereka.

Di susul Kenan yang menarik Dylan agar satu kamar dengannya masuk ke kamar nomor 3, berikutnya Hesa dan Nathan yang menyusul memasuki kamar nomor 4.

Sekarang tinggal Alvaro, Karel, Alex, dan Ody saja di ruang tengah. Alvaro yang awalnya tiduran di atas sofa langsung bangkit dan meraih tangan Karel untuk ia genggam.

“Gua sama karel di kamar 5 ya. Lo berdua mau pisah atau bareng terserah, masih ada dua kamar kosong. Kita duluan bro,”

Karel yang di tarik hanya mengikuti kemana Alvaro membawanya. Tidak lupa ia melambaikan tangan ke arah Alex dan Ody sebagai tanda perpisahan karena ia pergi ke kamar lebih dahulu.


Tangan Alvaro terulur untuk buka pintu kamar nomor 5. Disana terlihat ruangan bernuansa putih dengan satu almari berukuran sedang, kasur queen size, meja nakas, televisi, dan banyak pajangan yang tertempel di dinding. Ada sebuah jendela cukup besar dengan pemandangan pepohonan khas puncak yang terbuka, membuat angin dapat sesuka hati memasuki kamar itu. Alvaro dan Karel melangkah masuk ke dalam kamar, tak lupa Karel tutup pintu sebelum akhirnya berjalan ke kasur dan merebahkan tubuh di sana.

“Nggak mandi dulu?” tas mereka berdua Alvaro simpan di depan lemari sebelum ikut merebahkan diri di sebelah Karel. Badannya terasa pegal pasca menyetir.

“Males Al, dingin” Karel menolehkan pandangannya, menatap Alvaro yang tengah memejamkan mata. “lo sendiri nggak mandi?”

“Males juga, capek banget gua.”

Alvaro yang sedang menutup matanya kaget dan langsung membuka mata saat merasakan ada tangan dan kaki yang memeluk badannya—menjadikan dia guling. Sudah bisa di pastikan pelakunya Karel. Namun selama ini Karel tidak pernah bersikap clingy kepada Alvaro, dan tingkah lakunya kali ini membuat lelaki kelahiran februari itu sedikit heran di balik rasa senangnya.

“Kenapa?” tangan kanan Alvaro yang awalnya ia pakai untuk sandaran kepala di arahkan ke rambut Karel. Mengusap rambut sahabatnya lembut. Karel yang diperlakukan seperti itu menyamankan dekapannya pada tubuh Alvaro, menyembunyikan wajah pada dada bidang yang lebih tinggi.

“Enggak,”

“Kenapa Karel tiba-tiba manja gini hm? Biasanya gua peluk udah marah,” Alvaro tertawa mengingat tingkah Karel yang kadang risih jika dirinya mulai menempeli Karel.

“Al.”

“Apaa sayang?”

“Lo nggak cemburu tadi gua deket-deket Alex?”

“Kalo kata Dilan, cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri,”

“Biasanya lo cemburu, jadi lo nggak percaya diri?”

Alvaro mengangguk, “Gua gak percaya diri apa gua udah bikin lo sesayang itu sama gua, ketergantungan sama gua, bikin lo nggak bisa kalau nggak ada gua. Gua takut ada orang yang bisa bikin lo lebih nyaman daripada gua, bikin lo lebih sayang sama dia dan ninggalin gua.”

Karel mendongak, menatap sahabat kesayangannya hanya untuk lihat bagaimana ekspresi Alvaro. Bagaimana wajah itu tetap tampan di keadaan apapun.

“Sekarang lo udah percaya diri?”

“Iya. Gua percaya Karel yang gua kenal cuma sayang sama gua dan gak akan ninggalin gua.”

“Kenapa gitu? Kalau gua tiba-tiba pergi ninggalin lo gimana?”

“Hmm.. Kalau lo pergi, gua kejar lo sampai dapet, gua iket biar lo gak bisa kabur kemana-mana,” kini Alvaro yang memutar badan ke samping untuk bisa memeluk Karel dengan erat. Memeluk kesayangnya seperti tidak ada mentari yang akan muncul lagi di esok hari. Keduanya terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing. Mengungkapkan rasa sayang lewat pelukan yang mereka berikan satu sama lain.

“I love you, Al.”

“I love you more baby,” bibir tebal milik Alvaro mendarat di kening Karel, mengecupnya cukup lama. Membuat empunya tersenyum dibalik wajahnya yang tersembunyi di dada Alvaro.

Karel tidak pernah merasa sebahagia ini. Merasa aman dan nyaman dalam pelukan orang lain. Ia merasa bersyukur kepada tuhan karena telah mengirimkan Alvaro untuknya. Membantu mengobati luka yang di goreskan oleh orang terdekatnya, oleh ayahnya sendiri yang harusnya bisa menjadi pembimbing keluarga dan pemberi banyak kasih sayang di hidupnya.

Ada pelangi setelah hujan. Kini Karel percaya pepatah itu setelah merasakan bagaimana kupu-kupu beterbangan di perutnya saat ia hanya perlu bersebelahan dengan Alvaro. Tidak ada salahnya mencoba menjalin hubungan dan sedikit menurunkan rasa takutnya. Ia harus mempercayai bahwa Alvaro adalah orang yang baik, Alvaro sangat menyayangi dirinya lebih dari apapun. Alvaro orang yang tepat untuk menjadi rumahnya, menjadi tempatnya pulang, menjadi sandaran ternyamannya. Tempat Karel bisa mengutarakan seluruh keluh kesah dan berbagi bahagia. Karel baru menyadari setelah bertahun-tahun, hatinya telah menemukan tempat untuk berlabuh, hanya saja rasa takut membuatnya terus bersikap egois. Rasa takut itu terus menutupi seluruh kebaikan yang Alvaro berikan untuknya, membuat ia sendiri bingung langkah apa yang harus di ambil.

Karel melepas pelukannya dan bangkit dari posisi tidur. Ia duduk, tubuh atasnya sedikit menindih tubuh Alvaro dengan tangan menyangga di sisi kiri dan kanan wajah Alvaro. Pandangannya fokus menatap mata hitam kelam yang membuatnya jatuh hati untuk kesekian kalinya. Tak lama turun ke bibir tebal pria yang lebih tinggi, bibir yang sering kali mendarat pada pipi dan keningnya.

“Lo mau nggak ciuman sama gua?”

Kalimat yang di ucapkan Karel adalah yang terakhir kali terdengar sebelum akhirnya bibir kedua anak adam itu menempel. Saling memberi kecupan dan berakhir dengan lumatan pada lidah masing-masing. Menyalurkan rasa sayang yang selama ini terpendam melalui sebuah ciuman lembut, dengan angin dingin yang memasuki kamar melalui jendela menjadi saksi bisunya.

©️ writing_jy 22-10-17

Mereka semua sampai di villa pukul delapan pagi. Alvaro, Elang, dan Ody langsung merebahkan tubuh di sofa karena lelah menyetir, sedangkan yang lain asik memakan camilan sambil membagi kamar mereka.

“Gua udah pasti sama cewek gua sekamar. Kita di kamar depan ya,” Elang langsung membawa pacarnya masuk ke kamar mereka.

Di susul Kenan yang menarik Dylan agar satu kamar dengannya masuk ke kamar nomor 3, berikutnya Hesa dan Nathan yang menyusul memasuki kamar nomor 4.

Sekarang tinggal Alvaro, Karel, Alex, dan Ody saja di ruang tengah. Alvaro yang awalnya tiduran di atas sofa langsung bangkit dan meraih tangan Karel untuk ia genggam.

“Gua sama karel di kamar 5 ya. Lo berdua mau pisah atau bareng terserah, masih ada dua kamar kosong. Kita duluan bro,”

Karel yang di tarik hanya mengikuti kemana Alvaro membawanya. Tidak lupa ia melambaikan tangan ke arah Alex dan Ody sebagai tanda perpisahan karena ia pergi ke kamar lebih dahulu.

———

Tangan Alvaro terulur untuk buka pintu kamar nomor 5. Disana terlihat ruangan bernuansa putih dengan satu almari berukuran sedang, kasur queen size, meja nakas, televisi, dan banyak pajangan yang tertempel di dinding. Ada sebuah jendela cukup besar dengan pemandangan pepohonan khas puncak yang terbuka, membuat angin dapat sesuka hati memasuki kamar itu. Alvaro dan Karel melangkah masuk ke dalam kamar, tak lupa Karel tutup pintu sebelum akhirnya berjalan ke kasur dan merebahkan tubuh di sana.

“Nggak mandi dulu?” tas mereka berdua Alvaro simpan di depan lemari sebelum ikut merebahkan diri di sebelah Karel. Badannya terasa pegal pasca menyetir.

“Males Al, dingin” Karel menolehkan pandangannya, menatap Alvaro yang tengah memejamkan mata. “lo sendiri nggak mandi?”

“Males juga, capek banget gua.”

Alvaro yang sedang menutup matanya kaget dan langsung membuka mata saat merasakan ada tangan dan kaki yang memeluk badannya—menjadikan dia guling. Sudah bisa di pastikan pelakunya Karel. Namun selama ini Karel tidak pernah bersikap clingy kepada Alvaro, dan tingkah lakunya kali ini membuat lelaki kelahiran februari itu sedikit heran di balik rasa senangnya.

“Kenapa?” tangan kanan Alvaro yang awalnya ia pakai untuk sandaran kepala di arahkan ke rambut Karel. Mengusap rambut sahabatnya lembut. Karel yang diperlakukan seperti itu menyamankan dekapannya pada tubuh Alvaro, menyembunyikan wajah pada dada bidang yang lebih tinggi.

“Enggak,”

“Kenapa Karel tiba-tiba manja gini hm? Biasanya gua peluk udah marah,” Alvaro tertawa mengingat tingkah Karel yang kadang risih jika dirinya mulai menempeli Karel.

“Al.”

“Apaa sayang?”

“Lo nggak cemburu tadi gua deket-deket Alex?”

“Kalo kata Dilan, cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri,”

“Biasanya lo cemburu, jadi lo nggak percaya diri?”

Alvaro mengangguk, “Gua gak percaya diri apa gua udah bikin lo sesayang itu sama gua, ketergantungan sama gua, bikin lo nggak bisa kalau nggak ada gua. Gua takut ada orang yang bisa bikin lo lebih nyaman daripada gua, bikin lo lebih sayang sama dia dan ninggalin gua.”

Karel mendongak, menatap sahabat kesayangannya hanya untuk lihat bagaimana ekspresi Alvaro. Bagaimana wajah itu tetap tampan di keadaan apapun.

“Sekarang lo udah percaya diri?”

“Iya. Gua percaya Karel yang gua kenal cuma sayang sama gua dan gak akan ninggalin gua.”

“Kenapa gitu? Kalau gua tiba-tiba pergi ninggalin lo gimana?”

“Hmm.. Kalau lo pergi, gua kejar lo sampai dapet, gua iket biar lo gak bisa kabur kemana-mana,” kini Alvaro yang memutar badan ke samping untuk bisa memeluk Karel dengan erat. Memeluk kesayangnya seperti tidak ada mentari yang akan muncul lagi di esok hari. Keduanya terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing. Mengungkapkan rasa sayang lewat pelukan yang mereka berikan satu sama lain.

“I love you, Al.”

“I love you more baby,” bibir tebal milik Alvaro mendarat di kening Karel, mengecupnya cukup lama. Membuat empunya tersenyum dibalik wajahnya yang tersembunyi di dada Alvaro.

Karel tidak pernah merasa sebahagia ini. Merasa aman dan nyaman dalam pelukan orang lain. Ia merasa bersyukur kepada tuhan karena telah mengirimkan Alvaro untuknya. Membantu mengobati luka yang di goreskan oleh orang terdekatnya, oleh ayahnya sendiri yang harusnya bisa menjadi pembimbing keluarga dan pemberi banyak kasih sayang di hidupnya.

Ada pelangi setelah hujan. Kini Karel percaya pepatah itu setelah merasakan bagaimana kupu-kupu beterbangan di perutnya saat ia hanya perlu bersebelahan dengan Alvaro. Tidak ada salahnya mencoba menjalin hubungan dan sedikit menurunkan rasa takutnya. Ia harus mempercayai bahwa Alvaro adalah orang yang baik, Alvaro sangat menyayangi dirinya lebih dari apapun. Alvaro orang yang tepat untuk menjadi rumahnya, menjadi tempatnya pulang, menjadi sandaran ternyamannya. Tempat Karel bisa mengutarakan seluruh keluh kesah dan berbagi bahagia. Karel baru menyadari setelah bertahun-tahun, hatinya telah menemukan tempat untuk berlabuh, hanya saja rasa takut membuatnya terus bersikap egois. Rasa takut itu terus menutupi seluruh kebaikan yang Alvaro berikan untuknya, membuat ia sendiri bingung langkah apa yang harus di ambil.

Karel melepas pelukannya dan bangkit dari posisi tidur. Ia duduk, tubuh atasnya sedikit menindih tubuh Alvaro dengan tangan menyangga di sisi kiri dan kanan wajah Alvaro. Pandangannya fokus menatap mata hitam kelam yang membuatnya jatuh hati untuk kesekian kalinya. Tak lama turun ke bibir tebal pria yang lebih tinggi, bibir yang sering kali mendarat pada pipi dan keningnya.

“Lo mau nggak ciuman sama gua?”

Kalimat yang di ucapkan Karel adalah yang terakhir kali terdengar sebelum akhirnya bibir kedua anak adam itu menempel. Saling memberi kecupan dan berakhir dengan lumatan pada lidah masing-masing. Menyalurkan rasa sayang yang selama ini terpendam melalui sebuah ciuman lembut, dengan angin dingin yang memasuki kamar melalui jendela menjadi saksi bisunya.

©️ writing_jy 22-10-17

Mereka semua sampai di villa pukul delapan pagi. Alvaro, Elang, dan Ody langsung merebahkan tubuh di sofa karena lelah menyetir, sedangkan yang lain asik memakan camilan sambil membagi kamar mereka.

“Gua udah pasti sama cewek gua sekamar. Kita di kamar depan ya,” Elang langsung membawa pacarnya masuk ke kamar mereka.

Di susul Kenan yang menarik Dylan agar satu kamar dengannya masuk ke kamar nomor 3, berikutnya Hesa dan Nathan yang menyusul memasuki kamar nomor 4.

Sekarang tinggal Alvaro, Karel, Alex, dan Ody saja di ruang tengah. Alvaro yang awalnya tiduran di atas sofa langsung bangkit dan meraih tangan Karel untuk ia genggam.

“Gua sama karel di kamar 5 ya. Lo berdua mau pisah atau bareng terserah, masih ada dua kamar kosong. Kita duluan bro,”

Karel yang di tarik hanya mengikuti kemana Alvaro membawanya. Tidak lupa ia melambaikan tangan ke arah Alex dan Ody sebagai tanda perpisahan karena ia pergi ke kamar lebih dahulu.

—-

Tangan Alvaro terulur untuk buka pintu kamar nomor 5. Disana terlihat ruangan bernuansa putih dengan satu almari berukuran sedang, kasur queen size, meja nakas, televisi, dan banyak pajangan yang tertempel di dinding. Ada sebuah jendela cukup besar dengan pemandangan pepohonan khas puncak yang terbuka, membuat angin dapat sesuka hati memasuki kamar itu. Alvaro dan Karel melangkah masuk ke dalam kamar, tak lupa Karel tutup pintu sebelum akhirnya berjalan ke kasur dan merebahkan tubuh di sana.

“Nggak mandi dulu?” tas mereka berdua Alvaro simpan di depan lemari sebelum ikut merebahkan diri di sebelah Karel. Badannya terasa pegal pasca menyetir.

“Males Al, dingin” Karel menolehkan pandangannya, menatap Alvaro yang tengah memejamkan mata. “lo sendiri nggak mandi?”

“Males juga, capek banget gua”

Alvaro yang sedang menutup matanya kaget dan langsung membuka mata saat merasakan ada tangan dan kaki yang memeluk badannya—menjadikan dia guling. Sudah bisa di pastikan pelakunya Karel. Namun selama ini Karel tidak pernah bersikap clingy kepada Alvaro, dan tingkah lakunya kali ini membuat lelaki kelahiran februari itu sedikit heran di balik rasa senangnya.

“Kenapa?” tangan kanan Alvaro yang awalnya ia pakai untuk sandaran kepala di arahkan ke rambut Karel. Mengusap rambut sahabatnya lembut. Karel yang diperlakukan seperti itu menyamankan dekapannya pada tubuh Alvaro, menyembunyikan wajah pada dada bidang yang lebih tinggi.

“Enggak,”

“Kenapa Karel tiba-tiba manja gini hm? Biasanya gua peluk udah marah,” Alvaro tertawa mengingat tingkah Karel yang kadang risih jika dirinya mulai menempeli Karel.

“Al”

“Apaa sayang?”

“Lo nggak cemburu tadi gua deket-deket Alex?”

“Kalo kata Dilan, cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri,”

“Biasanya lo cemburu, jadi lo nggak percaya diri?”

Alvaro mengangguk, “Gua gak percaya diri apa gua udah bikin lo sesayang itu sama gua, ketergantungan sama gua, bikin lo nggak bisa kalau nggak ada gua. Gua takut ada orang yang bisa bikin lo lebih nyaman daripada gua, bikin lo lebih sayang sama dia dan ninggalin gua.”

Karel mendongak, menatap sahabat kesayangannya hanya untuk lihat bagaimana ekspresi Alvaro. Bagaimana wajah itu tetap tampan di keadaan apapun.

“Sekarang lo udah percaya diri?”

“Iya. Gua percaya Karel yang gua kenal cuma sayang sama gua dan gak akan ninggalin gua.”

“Kenapa gitu? Kalau gua tiba-tiba pergi ninggalin lo gimana?”

“Hmm.. Kalau lo pergi, gua kejar lo sampai dapet, gua iket biar lo gak bisa kabur kemana-mana,” kini Alvaro yang memutar badan ke samping untuk bisa memeluk Karel dengan erat. Memeluk kesayangnya seperti tidak ada mentari yang akan muncul lagi di esok hari. Keduanya terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing. Mengungkapkan rasa sayang lewat pelukan yang mereka berikan satu sama lain.

“I love you, Al”

“I love you more baby,” bibir tebal milik Alvaro mendarat di kening Karel, mengecupnya cukup lama. Membuat empunya tersenyum dibalik wajahnya yang tersembunyi di dada Alvaro.

Karel tidak pernah merasa sebahagia ini. Merasa aman dan nyaman dalam pelukan orang lain. Ia merasa bersyukur kepada tuhan karena telah mengirimkan Alvaro untuknya. Membantu mengobati luka yang di goreskan oleh orang terdekatnya, oleh ayahnya sendiri yang harusnya bisa menjadi pembimbing keluarga dan pemberi banyak kasih sayang di hidupnya.

Ada pelangi setelah hujan. Kini Karel percaya pepatah itu setelah merasakan bagaimana kupu-kupu beterbangan di perutnya saat ia hanya perlu bersebelahan dengan Alvaro. Tidak ada salahnya mencoba menjalin hubungan dan sedikit menurunkan rasa takutnya. Ia harus mempercayai bahwa Alvaro adalah orang yang baik, Alvaro sangat menyayangi dirinya lebih dari apapun. Alvaro orang yang tepat untuk menjadi rumahnya, menjadi tempatnya pulang, menjadi sandaran ternyamannya. Tempat Karel bisa mengutarakan seluruh keluh kesah dan berbagi bahagia. Karel baru menyadari setelah bertahun-tahun, hatinya telah menemukan tempat untuk berlabuh, hanya saja rasa takut membuatnya terus bersikap egois. Rasa takut itu terus menutupi seluruh kebaikan yang Alvaro berikan untuknya, membuat ia sendiri bingung langkah apa yang harus di ambil.

Karel melepas pelukannya dan bangkit dari posisi tidur. Ia duduk, tubuh atasnya sedikit menindih tubuh Alvaro dengan tangan menyangga di sisi kiri dan kanan wajah Alvaro. Pandangannya fokus menatap mata hitam kelam yang membuatnya jatuh hati untuk kesekian kalinya. Tak lama turun ke bibir tebal pria yang lebih tinggi, bibir yang sering kali mendarat pada pipi dan keningnya.

“Lo mau nggak ciuman sama gua?”

Kalimat yang di ucapkan Karel adalah yang terakhir kali terdengar sebelum akhirnya bibir kedua anak adam itu menempel. Saling memberi kecupan dan berakhir dengan lumatan pada lidah masing-masing. Menyalurkan rasa sayang yang selama ini terpendam melalui sebuah ciuman lembut, dengan angin dingin yang memasuki kamar melalui jendela menjadi saksi bisunya.

©️ writing_jy 22-10-17

“Bentar Niel,” Theo mengarahkan ponsel yang tengah berdering pada layar laptopnya yang menampilkan wajah Daniel. Mereka berdua tengah menonton film secara online bersama.

“Yang mana nih?” tanya Daniel—karena nama yang tertera pada ponsel Theo tidak terlalu jelas di layar laptopnya.

“Jeff.”

“Okay, take your time. Gue pause dulu, mau ke kamar mandi.”

Theo mengangguk. Setelahnya ia menekan tombol hijau pada ponsel, menerima panggilan dari Jeffrey.

“Hai.”

“Ya Jeff?”

“Lagi sibuk?”

“Enggak. I just..watching a movie with Daniel. Why?

“Kok nggak ngajak?”

“Memangnya kamu suka film Marvel? We watch Spiderman.

Jeffrey terkekeh, “Okay aku paham sekarang.”

“Yang kamu lakuin tadi, that's good.

“Udah ah jangan dibahas, aku malu.”

“Yang dulu kamu gak malu tuh?”

“Jeff..”

“Okay okay, aku stop.

“Tapi yang, tadi aku keceplosan.” Jeffrey meringis, “di depan Jovan Justin.”

“Terus? Mereka bilang apa?”

“Iri katanya, because i got a kiss from you.” Lelaki tampan itu kembali terkekeh, sedangkan Theo menutup mata dengan wajah merah merona. Ia memijat pelipisnya, tidak habis pikir dengan jawaban Jovan dan Jutin.

Okay stop. Just don't talk about it anymore. Reflek ku memang buruk banget, i'm sorry..”

No. Aku yang harusnya minta maaf. Karena cewek itu ganggu kita dan..karena gak sengaja ngomong ke Jovan Justin.”

I really sorry.

It's okay Jeff. Udah kejadian juga, mau gimana lagi?”

“Tapi mereka udah tau kronologi nya, kan?”

“Hm, aku cerita.”

“Bagus kalau gitu. Aku malu kalau harus cerita ke mereka.”

What if they ask for the same thing as i get?

“Aku gampar.”

Mendengar jawaban dari lelaki cantik itu membuat Jeffrey tertawa kencang. Theo memang luar biasa.

“Aku aja gak sengaja loh pas itu, masa iya mereka minta juga.”

“Kayaknya bakalan ditagih sih yang, tapi gak tau kapan.”

“Udah ah gak mau bahas itu, malesin kamu.”

“Iya iya maaf sayang.”

Can you stop call me sayang Mr. Jeff?

Why should i stop? Give me one reason.

Because you are not my boyfriend.

Is that enough?

Yeah, it's enough to break my heart.

Okey princess, see you tomorrow. Jangan tidur terlalu malam, besok pagi aku jemput.”

I'm prince???

Sambungan itu terputus. Membuat Theo mendengus kesal dengan tindakan Jeffrey.

So, have you ever kissed Jeffrey?

Oh, sial. Theo bahkan tidak sadar jika menyalakan mode speaker.

Namanya Theo. Lelaki dengan paras tampan sekaligus cantik yang baru saja menginjakkan kaki di halaman sekolah Neo. Ia baru saja pindah ke kota ini karena pekerjaan sang Papa yang mengharuskan keluarganya berpindah.

Anak tunggal dari keluarga Lee itu bukan tipe anak yang mudah bergaul. Ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca novel ataupun ensiklopedia daripada melakukan hal-hal tidak penting seperti bermain game.

Tak sedikit yang mengenalnya dengan nama 'murid pindahan'. Kepintarannya membuat Theo cukup dikenal oleh seluruh siswa ataupun guru di sekolah. Bahkan saat baru pindah, ia mendapatkan ranking nomor 2 umum saat penilaian akhir semester.

Dengan paras indah dan kepintaran itu, tidak semata-mata membuat hidup Theo tenang. Ia memiliki beberapa penggemar dan juga haters. Tak sedikit yang tidak menyukainya. Entah karena hubungan yang kandas sejak datangnya Theo—katanya kekasih mereka tertarik dan ingin mendekati Theo. Ataupun nilai yang kalah bagus dari Theo. Membuatnya cukup di benci.

Namun Theo tidak memusingkan hal itu. Semua wajar menurutnya, karena semua orang pasti memiliki rasa kesal dan benci terhadap orang lain. Berbagai cemooh juga beberapa kali ia terima, namun Theo selalu abai. Ia tidak memasukkan hati semua perkataan buruk orang kepadanya dan bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi.

Selama mereka tidak melakukan kekerasan fisik terhadapnya, kesabaran Theo tidak akan habis. Bunda mengajarkan padanya untuk mengabaikan hal-hal seperti itu dan tidak perlu mendendam atau memikirkannya. Itu hanya akan membuat penyakit hati.


Disinilah Theo mulai mengenal Kembar Jung; Jeffrey, Jovan, dan Justin.

Pertama kali Theo berkenalan dengan Justin saat mereka berada di kelas. Kebetulan Justin duduk sendirian—itu permintaannya sendiri, karena jumlah murid dikelas mereka ganjil. Akhirnya guru meminta Theo duduk disebelah Justin.

Justin tipe anak yang cukup friendly dan mudah akrab dengan orang. Kalau kata Theo, Justin itu cerewet.

Namun hal ini benar adanya, jika saja saat itu Justin tidak mengulurkan tangan dan menyebut namanya, mungkin mereka tidak sedekat ini sekarang. Karena Theo tidak pernah membuka suara, membuat Justin yang harus bertindak. Ia terus mencari topik pembicaraan untuk mengajak Theo mengobrol.

I think i fell in love at first sight. Theo manis ya. Theo itu gemes. Apalagi kalau lagi makan, pipinya gembul gitu. Hari ini Theo lebih cantik dari biasanya. Theo lo tau gak sih? Lo udah bikin gue gila karena mikirin lo terus.

Katakan Justin lebay. Namun semua yang dikatakan oleh batin bungsu Jung itu benar adanya. Ia benar-benar ditahap gila karena terus memikirkan Theo. Bahkan Mamanya sampai heran, Justin seringkali terlihat senyum-senyum sendiri saat hanya duduk diam.

“Kamu kenapa sih dek? Dari kemarin loh mama liat senyum-senyum sendiri. Kamu gak kesambet kan?”

“Lagi jatuh cinta kali Ma. Biasa, anak muda.”

“Kok Papa tau? Papa cenayang ya?”

Mama dan Papanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak mereka.

“Ah, Theo bikin aku gila. Aku gak bisa berhenti mikirin Theo.” Ucap Justin sebelum berlalu ke kamarnya.

Justin hanya ingin tidur saat ini, berharap lelaki dengan paras cantik yang sedang menghantui pikirannya datang kedalam mimpi dan membuat adegan menyenangkan. Berciuman dengannya misalnya?

Bungsu Jung itu memang benar-benar sudah gila.


Tidak sampai disini, kegilaan Putra keluarga Jung dilanjut dengan Jeffrey.

Awal pertemuannya dengan Theo saat ia memarkirkan motornya di parkiran sekolah. Matanya tak sengaja menangkap sosok dengan hoodie pink dan jeans putih tengah berjalan memasuki sekolah yang cukup sepi karena itu hari sabtu, dimana sekolah libur.

Jeffrey harus datang ke sekolah untuk mengerjakan tugas kelompok. Namun kini ia tidak menyesal untuk datang. Karena ia bisa bertemu dengan lelaki manis yang ia bahkan tidak tahu siapa namanya.

“Hai.” Jeffrey berjalan di samping Theo, menyapa lelaki itu.

“Oh, lo udah dateng?”

Jawaban itu membuat Jeffrey sedikit bingung. Ia bahkan baru melihat Theo saat ini, namun Theo seolah sudah melakukan janji temu dengannya?

Sorry?

“Hm? Kita mau kerja kelompok kan?”

“Gue emang dateng kesini buat kerja kelompok, tapi kayaknya bukan sama lo.” Jeffrey tersenyum menatap Theo yang bingung.

Oh, Jeffrey paham sekarang.

“Lo kenal Jovan?”

“Enggak.”

“Kalau gitu pasti Justin.”

“L-lo sendiri kan Justin?”

Jeffrey tertawa melihat ekspresi Theo.

Lucu.

Jeffrey mengulurkan tangan, “Gue Jeffrey.”

Sedangkan Theo langsung membalas uluran tangan itu, “Theo.”

“Gue bukan Justin, gue kakak kembarnya.”

“Oh ya? Jadi justin punya kembaran?”

“Bahkan masih ada satu lagi. Mungkin nanti lo bakal ketemu.”

“S-sorry udah salah kira. Kalian mirip banget.”

“It's okay.” Jeffrey tertawa, “bahkan temen kita sering salah panggil pas awal masuk sekolah.”

Theo mengangguk. Jujur saja ia sedikit terkejut mendengar kalau Justin memiliki kembaran, bahkan kembar tiga? Karena Justin sendiri tidak pernah membahasnya. Namun nama Jeffrey dan Jovan cukup sering masuk ke telinga Theo. Apakah ketiganya siswa populer? Itu yang Theo pikirkan sekarang.

“Jadi lo satu kelas sama Justin?”

Theo mengangguk.

“Emang kalian mau kerkom jam berapa? Tadi sebelum gue berangkat Justin masih tidur.”

“Masih cukup lama, jam 9.”

“Sama kalau gitu.”

Jeffrey langsung berdiri di hadapan Theo, membuat lelaki mungil itu menghentikan langkahnya.

“Mau sarapan bareng gue nggak? Di depan ada bubur ayam, gue jamin lo pasti suka.”

Jujur saja saat ini Theo cukup lapar karena ia belum sarapan. Bundanya pergi pagi-pagi sekali dengan sang Papa. Ia juga sangat malas memasak makanan.

Jeffrey tersenyum menang saat mendapati Theo mengangguk.

I got you Theo.


Theo berdecak kesal saat harus ke kamar kecil sekolah seorang diri. Ia ingin mengajak Justin atau Daniel untuk mengantarkannya, namun guru yang sedang mengajar tidak mengijinkan murid lain mengantarnya. Guru itu memiliki aturan, hanya ada 1 orang yang boleh keluar kelas untuk pergi ke kamar kecil. Yang lain harus menunggu untuk bergantian.

Saat memasuki kamar mandi Theo dibuat terkejut dengan adegan didepannya. Dimana sosok Jeffrey(?) tengah menghajar seseorang yang terlihat lemas—mungkin sebentar lagi kesadarannya hilang. Theo tidak sedang menonton drama kan?

Theo menahan lengan yang hendak kembali melayangkan pukulan pada pipi lawannya.

“Stop.”

Yang ditahan menoleh, wajahnya memerah karena marah. Tatapannya sungguh tajam, membuat Theo bergidik ngeri.

“U-udah, Jeff. Kasihan dia.”

“Gue bukan Jeffrey.”

Ia melepas kerah kemeja lawannya, membuat lelaki yang sudah lemas itu terkapar di lantai.

'Oh, mungkin kembaran yang lain?'

Karena tidak mungkin jika itu Justin. Terakhir Theo lihat lelaki yang tidak bisa diam itu masih duduk manis di kelas. Dan Theo cukup malu, karena sekali lagi ia salah memanggil. Theo benar-benar bingung bagaimana cara membedakan mereka? Wajah ketiganya sangat mirip, bahkan terlihat seperti satu orang yang sama.

“Jo..Jo siapa ya kemarin?” gumam theo.

Jovan yang melihat itu tersenyum tipis.

“Jovan.”

“Oh iya! Jovan.”

Jovan menyalakan kran wastafel. Membasuh mukanya yang lecet, terlihat beberapa memar dan darah disana.

“Ikut gue.”

Jovan hendak menarik tangan Theo, namun ditahan oleh empunya.

“Kemana? Gue mau ke dalem dulu.”

Tunjuk Theo pada salah satu bilik kamar kecil.

“Yaudah, gue tunggu.”

Saat Theo sudah selesai dengan urusannya, Jovan dengan tak sabaran menarik tangan mungil yang sangat pas di genggamannya itu. Membawanya menuju UKS.

“Obatin luka gue.”

“Gimana sama cowok tadi? Nggak di tolong?”

“Biarin aja, nanti temennya juga dateng buat bawa dia.”

Theo hanya mengangguk. Jujur saja ia sedikit takut dengan Jovan. Auranya sedikit berbeda dengan Justin ataupun Jeffrey. Jovan lebih menyeramkan!

“Lee Theo.” Jovan membaca nametag di pakaian yang lebih mungil.

Are you usually called Theo?

Yeah.

“Oke Theo, now you're my boyfriend.

Sorry?

“Gue gak terima penolakan.”

“Tapi gue punya hak untuk nolak.”

Theo membereskan kotak P3K sebelum berjalan cepat keluar dari UKS. Meninggalan Jovan yang tertawa cukup keras.

“Theo, sejauh apapun lo lari, gue gak akan capek buat kejar lo. Dan lo akan tetap kembali ke gue.”

Theo yang mendengar perkataan Jovan berusaha untuk abai, seolah hal itu tidak pernah ia dengar.

'Cowok sinting.'

'Theo, lo bakal jadi punya gue.'

“Theo!”

Cowok mungil yang masih berada di atas motor itu menoleh, tersenyum manis sambil melambaikan tangan saat melihat siapa yang menyapa.

“Kok belum masuk ke kelas?” Theo turun dari motor milik Jovan, setelahnya bahu itu di rangkul oleh Justin.

“Nungguin kamu sampe. Ayo ke kelas.”

Theo mengangguk, langsung saja ia berjalan beriringan bersama Justin menuju kelas mereka. Sedangkan dua Jung yang lain mengekor di belakang.

“Lama banget lo.” celetuk Jeffrey yang ditujukan kepada Jovan.

“Macet anjir, gue gak berani ngebut.”

“Ya emang jangan ngebut kalo bawa Theo. Anak orang kenapa-kenapa ntar,”

Saat berada di tangga mereka berpisah. Justin dan Theo harus menaiki tangga karena kelas mereka berdua ada di atas. Sedangkan Jeffrey dan Jovan tidak perlu repot menaiki tangga karena kelas mereka terletak di bawah, meskipun berbeda kelas.

Justin dan Theo menempati kelas 11 IPA 2, Jeffrey berada di kelas 11 IPS 1, sedangkan Jovan di kelas 11 IPS 3.

“Duluan ya Jeff, Jovan!”

Theo melambaikan tangan sebelum menaiki tangga, yang dibalas anggukan oleh keduanya.

“Hati-hati naik tangganya, gak usah buru-buru.” Jeffrey meliat Theo dan adik kembarnya yang sudah menaiki beberapa anak tangga.

“Jagain Theo Jas!”

“Iyee bawel.” balas Justin malas mendengar saudara kembarnya. Karena tanpa disuruh pun, ia pasti akan selalu menjaga Theo.

Setelahnya Jeffrey dan Jovan berpisah memasuki kelas masing-masing.


“Nah ini yang gue tunggu! Lo udah ngerjain fisika?”

Daniel yang melihat Theo dan Justin memasuki kelas langsung melayangkan pertanyaan untuk sahabatnya.

“Hah fisika ada tugas?” Justin ikut panik sambil membuka buku.

“Ada loh yang minggu lalu,” Theo ambil buku tulis dari tasnya kemudian ia serahkan kepada Daniel. “Kamu belum Jas?”

“Belum, hehe,” jawab Justin sambil nyengir, “aku join punya kamu ya ay?”

“Iyaa, aku mau piket dulu,”

“Emang udah jadian?” Tanya Daniel—untuk ke sekian kalinya. Pasalnya setiap Justin memanggil Theo dengan 𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔, 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔, 𝑏𝑎𝑏𝑒 atau semacamnya Daniel hampir selalu menanyakan hubungan keduanya.

Sebenarnya Daniel juga bingung, sahabatnya itu menjalin hubungan dengan siapa diantara ketiga lelaki yang dekat dengannya ini?

Jika bertanya kepada Theo jawaban 'teman' yang selalu ia dapat. Berbeda dengan kembar Jung, mereka akan menjawab 'pacar gue' secara bersamaan.

Namun Daniel juga tidak ingin bertanya lebih jauh, ia akan menunggu Theo menceritakan sendiri tentang perasaannya.

“Udah.” “Enggak.”

Jawaban serempak Justin dan Theo membuat keduanya saling berpandangan.

“Justin cuma bercanda,” ucap Theo kemudian, sebelum mengambil sapu dan mulai membersihkan kelas.

Sedangkan Justin hanya menghela nafas sebelum lanjut menyalin tugas dari buku Theo. Kali ini wajahnya terlihat sedikit murung.

Daniel paham. Sangat paham bagaimana perasaan Justin kepada Theo. Namun tidak banyak yang bisa ia perbuat untuk membantu, ia tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan mereka.

Mungkin nanti Daniel akan sedikit memberikan nasihat kepada Theo untuk tidak bertindak asal dan secara tidak langsung menyakiti Justin ataupun saudara kembarnya yang lain.

Theo menatap risih perempuan yang sedang bergelayut manja di lengan Jovan. Pasalnya perempuan dengan pakaian minim dan warna mencolok itu mengganggu ketenangan penghuni meja pojok—tempat Theo dan teman-temannya duduk.

Sejak tadi rengekan dengan suara cempreng terus menerus keluar dari bibir merahnya.

“Itu siapa sih?” Daniel yang sudah benar-benar risih dengan kehadiran gadis tak diundang itu berbisik kepada Theo yang duduk disebelahnya.

Yap Daniel akhirnya ikut dengan mereka atas permintaan Theo. Theo merasa canggung jika hanya bersama kembar Jung dan teman mereka, ia tidak cukup dekat dengan Jordan, Teryl ataupun Yuval. Jadilah ia mengajak Daniel untuk bergabung. Dan Jung bersaudara jelas menyetujui.

Mereka hampir tidak pernah menolak permintaan Theo. Atau lebih tepatnya tidak bisa menolak.

Posisinya saat ini Justin, Daniel, Theo, Jovan duduk berjejer. Di depan mereka ada Jordan, Teryl, dan Yuval. Jeffrey tidak bisa ikut karena ada kerja kelompok mendadak. Jujur saja itu membuatnya kesal karena tidak bisa menghabiskan waktu dengan Theo, namun ia bisa apa selain menerima? Nilai nya juga penting.

“Gak tau gue. Diemin aja deh.”

“Ayo dong Jov~ mau ya?” gadis itu duduk di sebelah Jovan, ia menyeret kursi kosong yang ada di sebelah Yuval. “Aku udah bilang loh sama temenku.”

“Ya itu urusan lo. Makannya kalo mau janji itu dipikir dulu, lo bisa penuhin atau enggak.”

“Lo bisa minggir gak sih?”

Jovan menghempas lengan gadis itu cukup kasar, membuatnya hampir jatuh dari kursi. Ia mendengus tak suka.

“Jangan kasar Jov. Inget, dia cewek.” Theo berusaha menenangkan. Jemari lentik itu mengusap lengan Jovan lembut.

“Apaan sih kamu Jov? Kok kamu kasar sama aku?”

“Lo yang apaan. Gue bahkan gak kenal lo siapa, dan seenak jidat lo nempel ke gue di depan gebetan gue?”

“Siapa gebetan-oh dia? Theo ya?” Gadis itu berdiri dan sedikit mendorong bahu Theo. “Cowok pindahan yang centil ke semua cowok. Mau jadi pelakor lo?”

“Maksud lo apa? Jaga omongan lo ya!” Kali ini Justin angkat bicara.

“Nah udah keliatan kan, kalian udah kena peletnya dia. Heh cowok murahan! Jauh-jauh deh lo dari cowok gue. Gak usah ngarep lo bisa masuk ke keluarga Jung!”

Jovan sudah akan bangkit dari duduknya, namun Theo menahan. Theo tahu betul bagaimana emosi Jovan. Lelaki itu lebih mudah marah daripada saudaranya yang lain. Dan Jovan cukup suka menggunakan kekerasan. Tidak peduli wanita sekalipun, jika ia mengusik hidupnya dan membuatnya meledak, Jovan tidak akan tinggal diam.

“Siapa yang lo bilang cowok lo?” Justin menatap remeh gadis itu, “saudara dan temen gue gak akan ada yang mau sama cewek kaya lo. Dan gue peringatkan jaga ucapan lo sama Theo.”

Justin memang berkata dengan santai, namun ucapannya terdengar meremehkan, begitu juga tatapannya yang sangat tajam. Ia sungguh marah saat mendengar cemooh yang dilontarkan untuk Theo. Namun Justin tidak bisa berbuat lebih, karena bagaimanapun ia tidak bisa menyakiti wanita.

Jika orang itu lelaki, sudah bisa dipastikan ia habis ditangan kembar Jung karena telah berani mengusik permata mereka, kesayangan yang mereka jaga.

Theo bangkit dari duduknya. Mengambil selembar tisu untuk membersihkan tangannya.

“Udah denger kan? Jadi yang mana cowok lo?” Theo melempar tisu kotor itu, membuat gadis itu meringis jijik saat tisu dengan remahan ayam mengenai pakaiannya.

“Kenapa memang kalau gue centil ke semua cowok? Gak terima lo kalah cakep dari gue? Hm?”

“Kata gue, lo belajar dulu deh ubah sikap dan penampilan lo.” Theo mendekat pada gadis itu dan berbisik, “Because you look like a cheap stuff.

Theo sedikit mendorong bahu gadis itu dengan jari telunjuknya.

“Dan soal keluarga Jung..gue juga gak berharap bisa menjadi bagian dari mereka. Jadi lo gak perlu khawatir kalah saing sama gue.”

“Lagipula lo udah denger sendiri kan? Mereka gak mau sama lo. Jadi yang lo lakuin saat ini, it doesn't mean anything. Cuma sia-sia.”

Theo menatap gadis itu remeh sebelum kembali duduk. Sedang gadis itu langsung pergi. Wajahnya memerah marah, ia benar-benar merasa malu karena ucapan Theo.

“Kalian kenapa?”

Lelaki berparas tampan sekaligus cantik itu bingung saat mendapati semua mata tertuju padanya. Dengan tatapan berbeda-beda namun lebih dominan terkejut. Bahkan Daniel menatapnya tanpa berkedip.

Tak lama Theo menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Entah kenapa ia merasa malu sekarang.

“A-ayo lanjutin makannya, udah sore.”

Mendengar ucapan Theo semua kembali fokus kepada makanan masing-masing. Tidak ada yang mau membuka suara.

Sedangkan Theo mengambil cola dan tersenyum canggung. Ia menenggak cola itu dengan rakus.

'Bego, apa yang lo lakuin sih Theo?! Bundaa Theo malu :('

Alexa's home

“Yaang ini kok seblaknya atas nama jaehyun?”

Taeyong nyamperin pacarnya yang lagi rebahan di karpet. Seblaknya belum diambil, dia suruh mamang ojolnya nunggu dulu, takut salah.

“Iya bener itu, mana seblaknya?”

“Oh bener ya? Bentar aku ambil dulu,” gak lama taeyong masuk lagi sambil bawa seblak, “Aku pikir salah alamat, emang keluarga kamu ada yang namanya jaehyun?”

“Gak sihh itu pake akun temenku hehe,”

“Udah dibayar juga loh pakai gopay, udah di ganti uangnya? Aku transferin sini,”

“Gak usahh, dia traktir kok,”

“Baik banget temenmu,”

“Iya donggg!! Masa kamu gak kenal yang? Jung jaehyun anak ips 1 itu loh, yang jago bahasa inggris,”

“Enggak, tau namanya aja,”

Alexa ambil hp nya, terus buka twitter buat nunjukin komuk jaehyun ke pacarnya.

“Yang ini loh,”

“Oh aku sering liat dia, tapi gak tau namanya,”

“Ganteng ya yang?”

“Hmm, kenapa? Kamu naksir dia?”

“Enggak lah, aku mau jodohin dia sama seseorang,”

“Sejak kapan kamu deket sama dia?”

“Baru baru ini sih, do'a in ya yang,”

“Hah do'a in apa?”

“Kan aku mau jodohin dia sama seseorang, kamu bantu do'a biar berhasil,”

“Iya aminn,”

Alexa langsung senyum manis. 𝑯𝒆𝒉𝒆, batinnya.

Taeyong lari keluar rumah buat bukain pager, gak enak dia sama temen abangnya yang udah nunggu.

“Jaehyun mana Yong?”

“Baru masuk kamar mandi bang, baru bangun,” setelah pager kebuka lebar, taeyong ajak temen abangnya buat masuk.

“Nih yong,” juyeon ngasih kresek kfc ke cowok manis itu.

“Buat bang jeje?”

“Iya, bagi dua sama lo juga,”

“Makasih abang.”

Taeyong seneng, soalnya pas dia cek ada ice cream. Dia lagi pengen makan itu. Juyeon ngangguk aja habis itu ngikutin taeyong masuk ke rumah bareng temen-temennya.

“Papi ada temen abang nih,”

Yunho langsung lipat koran yang dia baca dan simpan di atas meja. Sedangkan Taeyong jalan ke dapur sambil senyum bahagia mau makan ice cream nya.

“Yo bro!” Yunho langsung high five sama Yuta sebelum gantian sama yang lain.

“Apa kabar pi?”

“Sehat nih. Kalian apa kabar?”

“Sehat juga pii,”

“Belum pada sarapan kan? Lagi di masakin makanan,”

“Ngerepotin aja pi,”

“Enggak lah,”

Gak lama Jaehyun dateng dari lantai atas. Mukanya masih agak bantal walaupun udah mandi, masih ngantuk dia.

“Pagi banget anjir,”

“Kemarin kan janjian jam segini dakjal,”

“Mulut lo minta gue sumbangin ke neraka ya Ming,”

Mereka bercanda bareng papi Yunho. Sedangkan papa Jaejoong, taeyong, dan hyunjae lagi masak di dapur. Ada Mochi juga yang ngikutin taeyong kemanapun cowok manis itu pergi, gak mau jauh-jauh pokoknya.

“Kayaknya laper deh dek si Mochi,” Jaejoong gendong kucing kecil itu terus di usapin bulunya.

“Udah aku gojekin makanan kucing sama tempat yang buat poop pa, bentar lagi sampai,”

Jaejoong ngangguk aja. Dia gak larang anaknya pelihara hewan-hewan gini, asalkan dirawat yang bener ya di kasih izin.

•••

Doyoung ngetuk pintu rumah yang kebuka itu. Agak malu sih masuk sendirian, soalnya taeyong gak mau jemput di depan.

“Permisi.”

“Eh masuk Doy,” jaehyun yang notice langsung mempersilahkan cowok itu masuk.

“Bang,” doyoung senyum ke temen-temen jaehyun—bermaksud menyapa. Dia udah lumayan deket sama mereka semua karen sering diajakin taeyong makan bareng di kantin atau nongkrong.

Doyoung jalan ke arah yunho dan langsung salim, “Pagi om,”

“Iya pagi,” balas yunho, “Temen kamu jae? Papi gak pernah liat,”

“Bukan om, saya temennya taeyong,”

“Oalah temen si adek. Panggil papi aja ya,”

“Iya papi..” doyoung senyum canggung, baru kali ini dia ketemu papi nya taeyong.

“Duduk sini,” yunho kasih space biar doyoung bisa duduk di sofa. “Temennya aja kamu? Bukan pacarnya taeyong?”

“Piii..”

Bukan doyoung yang jawab, tapi jaehyun. Mukanya udah sepet aja.

“Padahal temen adek ganteng gini ya, kok malah kepincutnya sama kamu,”

“Pake pelet jangan-jangan lo jae,” leedo nambahin.

“Enak aja, emang gue ganteng gini ya gimana gak kepincut,”

“Halah gantengan juga papi,”

~~~

“Papi minta uang dong–eh udah disini aja lo doy,” taeyong jalan dari dapur langsung nyamperin papi nya. Ada Mochi juga di belakangnya ngikutin, eh pas liat jaehyun si kucing langsung duduk di pangkuan jaehyun.

“Ya udah lah, gue aja chat lo dari tadi kalo udh sampai,”

“Gue lagi bantuin papa masak, kalo mau ikut ya ayo,”

Doyoung ngangguk, mending dia sama taeyong aja ghibah daripada disini :((

“Uang buat apa dek?” yunho nanya anaknya sambil keluarin dompet.

“Bayar gojek makanannya Mochi,” taeyong tunjukin hp ke papinya, “nih pi, 180 ribu,”

Yunho ngangguk terus ngasih uang seratus ribu 3 lembar ke taeyong, “sisanya simpen aja buat jajan,”

“Makasii papi,” taeyong cium pipi yunho, jaehyun yang liat langsung iri. Dia belum dapet jatah cium pagi ini :((

“Gue gak dikasih dek?”

“Apa?”

“Cium,”

“Dih ngapain. Mending lo cium Mochi aja nih, ya nggak mbul?” taeyong ngambil mochi terus mukanya diarahin ke pipi jaehyun.

“Gak berasa lah,”

“Kemarin kan udah juga bang, masa masih kurang?” yunho pura-pura nonton tv.

“Spill om,” mingyu langsung kompor.

Taeyong yang paham maksud papi nya langsung merah pipinya. Malu banget dia :(( Akhirnya dia memutuskan keluar rumah nungguin bang gojek sambil gendong Mochi. Doyoung juga ikut disampingnya sambil ngajakin Taeyong ngobrol.

Lebih tepatnya gibah sih :D