Namanya Theo. Lelaki dengan paras tampan sekaligus cantik yang baru saja menginjakkan kaki di halaman sekolah Neo. Ia baru saja pindah ke kota ini karena pekerjaan sang Papa yang mengharuskan keluarganya berpindah.
Anak tunggal dari keluarga Lee itu bukan tipe anak yang mudah bergaul. Ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca novel ataupun ensiklopedia daripada melakukan hal-hal tidak penting seperti bermain game.
Tak sedikit yang mengenalnya dengan nama 'murid pindahan'. Kepintarannya membuat Theo cukup dikenal oleh seluruh siswa ataupun guru di sekolah. Bahkan saat baru pindah, ia mendapatkan ranking nomor 2 umum saat penilaian akhir semester.
Dengan paras indah dan kepintaran itu, tidak semata-mata membuat hidup Theo tenang. Ia memiliki beberapa penggemar dan juga haters. Tak sedikit yang tidak menyukainya. Entah karena hubungan yang kandas sejak datangnya Theo—katanya kekasih mereka tertarik dan ingin mendekati Theo. Ataupun nilai yang kalah bagus dari Theo. Membuatnya cukup di benci.
Namun Theo tidak memusingkan hal itu. Semua wajar menurutnya, karena semua orang pasti memiliki rasa kesal dan benci terhadap orang lain. Berbagai cemooh juga beberapa kali ia terima, namun Theo selalu abai. Ia tidak memasukkan hati semua perkataan buruk orang kepadanya dan bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi.
Selama mereka tidak melakukan kekerasan fisik terhadapnya, kesabaran Theo tidak akan habis. Bunda mengajarkan padanya untuk mengabaikan hal-hal seperti itu dan tidak perlu mendendam atau memikirkannya. Itu hanya akan membuat penyakit hati.
Disinilah Theo mulai mengenal Kembar Jung; Jeffrey, Jovan, dan Justin.
Pertama kali Theo berkenalan dengan Justin saat mereka berada di kelas. Kebetulan Justin duduk sendirian—itu permintaannya sendiri, karena jumlah murid dikelas mereka ganjil. Akhirnya guru meminta Theo duduk disebelah Justin.
Justin tipe anak yang cukup friendly dan mudah akrab dengan orang. Kalau kata Theo, Justin itu cerewet.
Namun hal ini benar adanya, jika saja saat itu Justin tidak mengulurkan tangan dan menyebut namanya, mungkin mereka tidak sedekat ini sekarang. Karena Theo tidak pernah membuka suara, membuat Justin yang harus bertindak. Ia terus mencari topik pembicaraan untuk mengajak Theo mengobrol.
I think i fell in love at first sight.
Theo manis ya.
Theo itu gemes. Apalagi kalau lagi makan, pipinya gembul gitu.
Hari ini Theo lebih cantik dari biasanya.
Theo lo tau gak sih? Lo udah bikin gue gila karena mikirin lo terus.
Katakan Justin lebay. Namun semua yang dikatakan oleh batin bungsu Jung itu benar adanya. Ia benar-benar ditahap gila karena terus memikirkan Theo. Bahkan Mamanya sampai heran, Justin seringkali terlihat senyum-senyum sendiri saat hanya duduk diam.
“Kamu kenapa sih dek? Dari kemarin loh mama liat senyum-senyum sendiri. Kamu gak kesambet kan?”
“Lagi jatuh cinta kali Ma. Biasa, anak muda.”
“Kok Papa tau? Papa cenayang ya?”
Mama dan Papanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak mereka.
“Ah, Theo bikin aku gila. Aku gak bisa berhenti mikirin Theo.” Ucap Justin sebelum berlalu ke kamarnya.
Justin hanya ingin tidur saat ini, berharap lelaki dengan paras cantik yang sedang menghantui pikirannya datang kedalam mimpi dan membuat adegan menyenangkan. Berciuman dengannya misalnya?
Bungsu Jung itu memang benar-benar sudah gila.
Tidak sampai disini, kegilaan Putra keluarga Jung dilanjut dengan Jeffrey.
Awal pertemuannya dengan Theo saat ia memarkirkan motornya di parkiran sekolah. Matanya tak sengaja menangkap sosok dengan hoodie pink dan jeans putih tengah berjalan memasuki sekolah yang cukup sepi karena itu hari sabtu, dimana sekolah libur.
Jeffrey harus datang ke sekolah untuk mengerjakan tugas kelompok. Namun kini ia tidak menyesal untuk datang. Karena ia bisa bertemu dengan lelaki manis yang ia bahkan tidak tahu siapa namanya.
“Hai.” Jeffrey berjalan di samping Theo, menyapa lelaki itu.
“Oh, lo udah dateng?”
Jawaban itu membuat Jeffrey sedikit bingung. Ia bahkan baru melihat Theo saat ini, namun Theo seolah sudah melakukan janji temu dengannya?
“Sorry?“
“Hm? Kita mau kerja kelompok kan?”
“Gue emang dateng kesini buat kerja kelompok, tapi kayaknya bukan sama lo.” Jeffrey tersenyum menatap Theo yang bingung.
Oh, Jeffrey paham sekarang.
“Lo kenal Jovan?”
“Enggak.”
“Kalau gitu pasti Justin.”
“L-lo sendiri kan Justin?”
Jeffrey tertawa melihat ekspresi Theo.
Lucu.
Jeffrey mengulurkan tangan, “Gue Jeffrey.”
Sedangkan Theo langsung membalas uluran tangan itu, “Theo.”
“Gue bukan Justin, gue kakak kembarnya.”
“Oh ya? Jadi justin punya kembaran?”
“Bahkan masih ada satu lagi. Mungkin nanti lo bakal ketemu.”
“S-sorry udah salah kira. Kalian mirip banget.”
“It's okay.” Jeffrey tertawa, “bahkan temen kita sering salah panggil pas awal masuk sekolah.”
Theo mengangguk. Jujur saja ia sedikit terkejut mendengar kalau Justin memiliki kembaran, bahkan kembar tiga? Karena Justin sendiri tidak pernah membahasnya. Namun nama Jeffrey dan Jovan cukup sering masuk ke telinga Theo. Apakah ketiganya siswa populer? Itu yang Theo pikirkan sekarang.
“Jadi lo satu kelas sama Justin?”
Theo mengangguk.
“Emang kalian mau kerkom jam berapa? Tadi sebelum gue berangkat Justin masih tidur.”
“Masih cukup lama, jam 9.”
“Sama kalau gitu.”
Jeffrey langsung berdiri di hadapan Theo, membuat lelaki mungil itu menghentikan langkahnya.
“Mau sarapan bareng gue nggak? Di depan ada bubur ayam, gue jamin lo pasti suka.”
Jujur saja saat ini Theo cukup lapar karena ia belum sarapan. Bundanya pergi pagi-pagi sekali dengan sang Papa. Ia juga sangat malas memasak makanan.
Jeffrey tersenyum menang saat mendapati Theo mengangguk.
I got you Theo.
Theo berdecak kesal saat harus ke kamar kecil sekolah seorang diri. Ia ingin mengajak Justin atau Daniel untuk mengantarkannya, namun guru yang sedang mengajar tidak mengijinkan murid lain mengantarnya. Guru itu memiliki aturan, hanya ada 1 orang yang boleh keluar kelas untuk pergi ke kamar kecil. Yang lain harus menunggu untuk bergantian.
Saat memasuki kamar mandi Theo dibuat terkejut dengan adegan didepannya. Dimana sosok Jeffrey(?) tengah menghajar seseorang yang terlihat lemas—mungkin sebentar lagi kesadarannya hilang. Theo tidak sedang menonton drama kan?
Theo menahan lengan yang hendak kembali melayangkan pukulan pada pipi lawannya.
“Stop.”
Yang ditahan menoleh, wajahnya memerah karena marah. Tatapannya sungguh tajam, membuat Theo bergidik ngeri.
“U-udah, Jeff. Kasihan dia.”
“Gue bukan Jeffrey.”
Ia melepas kerah kemeja lawannya, membuat lelaki yang sudah lemas itu terkapar di lantai.
'Oh, mungkin kembaran yang lain?'
Karena tidak mungkin jika itu Justin. Terakhir Theo lihat lelaki yang tidak bisa diam itu masih duduk manis di kelas. Dan Theo cukup malu, karena sekali lagi ia salah memanggil. Theo benar-benar bingung bagaimana cara membedakan mereka? Wajah ketiganya sangat mirip, bahkan terlihat seperti satu orang yang sama.
“Jo..Jo siapa ya kemarin?” gumam theo.
Jovan yang melihat itu tersenyum tipis.
“Jovan.”
“Oh iya! Jovan.”
Jovan menyalakan kran wastafel. Membasuh mukanya yang lecet, terlihat beberapa memar dan darah disana.
“Ikut gue.”
Jovan hendak menarik tangan Theo, namun ditahan oleh empunya.
“Kemana? Gue mau ke dalem dulu.”
Tunjuk Theo pada salah satu bilik kamar kecil.
“Yaudah, gue tunggu.”
Saat Theo sudah selesai dengan urusannya, Jovan dengan tak sabaran menarik tangan mungil yang sangat pas di genggamannya itu. Membawanya menuju UKS.
“Obatin luka gue.”
“Gimana sama cowok tadi? Nggak di tolong?”
“Biarin aja, nanti temennya juga dateng buat bawa dia.”
Theo hanya mengangguk. Jujur saja ia sedikit takut dengan Jovan. Auranya sedikit berbeda dengan Justin ataupun Jeffrey. Jovan lebih menyeramkan!
“Lee Theo.” Jovan membaca nametag di pakaian yang lebih mungil.
“Are you usually called Theo?“
“Yeah.“
“Oke Theo, now you're my boyfriend.“
“Sorry?“
“Gue gak terima penolakan.”
“Tapi gue punya hak untuk nolak.”
Theo membereskan kotak P3K sebelum berjalan cepat keluar dari UKS. Meninggalan Jovan yang tertawa cukup keras.
“Theo, sejauh apapun lo lari, gue gak akan capek buat kejar lo. Dan lo akan tetap kembali ke gue.”
Theo yang mendengar perkataan Jovan berusaha untuk abai, seolah hal itu tidak pernah ia dengar.
'Cowok sinting.'
'Theo, lo bakal jadi punya gue.'