Alvaro membuka kamar dengan gantungan berukir nomor “5” di pintunya. Ia dapati sang kekasih tengah memainkan ponsel dengan posisi tidur tengkurap. Seperti biasa, Alvaro berjalan menghampiri Karel dan berbaring di atasnya—menindih. Membuat Karel yang menjadi korban mendengus kesal.
“Lo tuh kebiasaan ya Al. Bisa gak jangan nindih gua? Badan lo beraat.” tangan Karel terulur menarik rambut Alvaro, tidak terlalu kencang namun cukup membuat Alvaro meringis.
“Akh, sakit yang,”
Alvaro berpindah posisi ke sebelah Karel. Mengusap rambutnya yang menjadi korban keganasan tangan Karel.
“Maaf maaf, sini gua elusin,”
Karel berbaring menghadap Alvaro dengan posisi lebih ke atas. Meletakkan kaki di atas perut kekasihnya dan meraih kepala Alvaro untuk bersandar di dadanya sebelum mengelus rambut hitam itu.
“Bayi besar guaa,” ia menarik pipi berisi Alvaro.
“Enak yang di elusin, jadi ngantuk,”
“Tidur lah, gitu sok mau minum-minum,”
“Ini kan udah gak jadi sayangku,”
Karel hanya menjawab dengan dehaman dan lanjut mengelus rambut Alvaro.
“Kamu mulai kerja kapan yang?”
“Senin ada photoshoot. Gak ada jadwal tetapnya sih, jadi seadanya job gitu,”
Alvaro mengangguk mendengar penjelasan itu.
“Gua jadi bingung. Nanti kalau lo lagi kerja gua ngapain ya? Biasanya bareng lo terus.” Wajahnya ia dusalkan pada ceruk leher Karel. Mengecupi pundak,