tragedi kfc

Theo menatap risih perempuan yang sedang bergelayut manja di lengan Jovan. Pasalnya perempuan dengan pakaian minim dan warna mencolok itu mengganggu ketenangan penghuni meja pojok—tempat Theo dan teman-temannya duduk.

Sejak tadi rengekan dengan suara cempreng terus menerus keluar dari bibir merahnya.

“Itu siapa sih?” Daniel yang sudah benar-benar risih dengan kehadiran gadis tak diundang itu berbisik kepada Theo yang duduk disebelahnya.

Yap Daniel akhirnya ikut dengan mereka atas permintaan Theo. Theo merasa canggung jika hanya bersama kembar Jung dan teman mereka, ia tidak cukup dekat dengan Jordan, Teryl ataupun Yuval. Jadilah ia mengajak Daniel untuk bergabung. Dan Jung bersaudara jelas menyetujui.

Mereka hampir tidak pernah menolak permintaan Theo. Atau lebih tepatnya tidak bisa menolak.

Posisinya saat ini Justin, Daniel, Theo, Jovan duduk berjejer. Di depan mereka ada Jordan, Teryl, dan Yuval. Jeffrey tidak bisa ikut karena ada kerja kelompok mendadak. Jujur saja itu membuatnya kesal karena tidak bisa menghabiskan waktu dengan Theo, namun ia bisa apa selain menerima? Nilai nya juga penting.

“Gak tau gue. Diemin aja deh.”

“Ayo dong Jov~ mau ya?” gadis itu duduk di sebelah Jovan, ia menyeret kursi kosong yang ada di sebelah Yuval. “Aku udah bilang loh sama temenku.”

“Ya itu urusan lo. Makannya kalo mau janji itu dipikir dulu, lo bisa penuhin atau enggak.”

“Lo bisa minggir gak sih?”

Jovan menghempas lengan gadis itu cukup kasar, membuatnya hampir jatuh dari kursi. Ia mendengus tak suka.

“Jangan kasar Jov. Inget, dia cewek.” Theo berusaha menenangkan. Jemari lentik itu mengusap lengan Jovan lembut.

“Apaan sih kamu Jov? Kok kamu kasar sama aku?”

“Lo yang apaan. Gue bahkan gak kenal lo siapa, dan seenak jidat lo nempel ke gue di depan gebetan gue?”

“Siapa gebetan-oh dia? Theo ya?” Gadis itu berdiri dan sedikit mendorong bahu Theo. “Cowok pindahan yang centil ke semua cowok. Mau jadi pelakor lo?”

“Maksud lo apa? Jaga omongan lo ya!” Kali ini Justin angkat bicara.

“Nah udah keliatan kan, kalian udah kena peletnya dia. Heh cowok murahan! Jauh-jauh deh lo dari cowok gue. Gak usah ngarep lo bisa masuk ke keluarga Jung!”

Jovan sudah akan bangkit dari duduknya, namun Theo menahan. Theo tahu betul bagaimana emosi Jovan. Lelaki itu lebih mudah marah daripada saudaranya yang lain. Dan Jovan cukup suka menggunakan kekerasan. Tidak peduli wanita sekalipun, jika ia mengusik hidupnya dan membuatnya meledak, Jovan tidak akan tinggal diam.

“Siapa yang lo bilang cowok lo?” Justin menatap remeh gadis itu, “saudara dan temen gue gak akan ada yang mau sama cewek kaya lo. Dan gue peringatkan jaga ucapan lo sama Theo.”

Justin memang berkata dengan santai, namun ucapannya terdengar meremehkan, begitu juga tatapannya yang sangat tajam. Ia sungguh marah saat mendengar cemooh yang dilontarkan untuk Theo. Namun Justin tidak bisa berbuat lebih, karena bagaimanapun ia tidak bisa menyakiti wanita.

Jika orang itu lelaki, sudah bisa dipastikan ia habis ditangan kembar Jung karena telah berani mengusik permata mereka, kesayangan yang mereka jaga.

Theo bangkit dari duduknya. Mengambil selembar tisu untuk membersihkan tangannya.

“Udah denger kan? Jadi yang mana cowok lo?” Theo melempar tisu kotor itu, membuat gadis itu meringis jijik saat tisu dengan remahan ayam mengenai pakaiannya.

“Kenapa memang kalau gue centil ke semua cowok? Gak terima lo kalah cakep dari gue? Hm?”

“Kata gue, lo belajar dulu deh ubah sikap dan penampilan lo.” Theo mendekat pada gadis itu dan berbisik, “Because you look like a cheap stuff.

Theo sedikit mendorong bahu gadis itu dengan jari telunjuknya.

“Dan soal keluarga Jung..gue juga gak berharap bisa menjadi bagian dari mereka. Jadi lo gak perlu khawatir kalah saing sama gue.”

“Lagipula lo udah denger sendiri kan? Mereka gak mau sama lo. Jadi yang lo lakuin saat ini, it doesn't mean anything. Cuma sia-sia.”

Theo menatap gadis itu remeh sebelum kembali duduk. Sedang gadis itu langsung pergi. Wajahnya memerah marah, ia benar-benar merasa malu karena ucapan Theo.

“Kalian kenapa?”

Lelaki berparas tampan sekaligus cantik itu bingung saat mendapati semua mata tertuju padanya. Dengan tatapan berbeda-beda namun lebih dominan terkejut. Bahkan Daniel menatapnya tanpa berkedip.

Tak lama Theo menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Entah kenapa ia merasa malu sekarang.

“A-ayo lanjutin makannya, udah sore.”

Mendengar ucapan Theo semua kembali fokus kepada makanan masing-masing. Tidak ada yang mau membuka suara.

Sedangkan Theo mengambil cola dan tersenyum canggung. Ia menenggak cola itu dengan rakus.

'Bego, apa yang lo lakuin sih Theo?! Bundaa Theo malu :('