sekolah
“Theo!”
Cowok mungil yang masih berada di atas motor itu menoleh, tersenyum manis sambil melambaikan tangan saat melihat siapa yang menyapa.
“Kok belum masuk ke kelas?” Theo turun dari motor milik Jovan, setelahnya bahu itu di rangkul oleh Justin.
“Nungguin kamu sampe. Ayo ke kelas.”
Theo mengangguk, langsung saja ia berjalan beriringan bersama Justin menuju kelas mereka. Sedangkan dua Jung yang lain mengekor di belakang.
“Lama banget lo.” celetuk Jeffrey yang ditujukan kepada Jovan.
“Macet anjir, gue gak berani ngebut.”
“Ya emang jangan ngebut kalo bawa Theo. Anak orang kenapa-kenapa ntar,”
Saat berada di tangga mereka berpisah. Justin dan Theo harus menaiki tangga karena kelas mereka berdua ada di atas. Sedangkan Jeffrey dan Jovan tidak perlu repot menaiki tangga karena kelas mereka terletak di bawah, meskipun berbeda kelas.
Justin dan Theo menempati kelas 11 IPA 2, Jeffrey berada di kelas 11 IPS 1, sedangkan Jovan di kelas 11 IPS 3.
“Duluan ya Jeff, Jovan!”
Theo melambaikan tangan sebelum menaiki tangga, yang dibalas anggukan oleh keduanya.
“Hati-hati naik tangganya, gak usah buru-buru.” Jeffrey meliat Theo dan adik kembarnya yang sudah menaiki beberapa anak tangga.
“Jagain Theo Jas!”
“Iyee bawel.” balas Justin malas mendengar saudara kembarnya. Karena tanpa disuruh pun, ia pasti akan selalu menjaga Theo.
Setelahnya Jeffrey dan Jovan berpisah memasuki kelas masing-masing.
“Nah ini yang gue tunggu! Lo udah ngerjain fisika?”
Daniel yang melihat Theo dan Justin memasuki kelas langsung melayangkan pertanyaan untuk sahabatnya.
“Hah fisika ada tugas?” Justin ikut panik sambil membuka buku.
“Ada loh yang minggu lalu,” Theo ambil buku tulis dari tasnya kemudian ia serahkan kepada Daniel. “Kamu belum Jas?”
“Belum, hehe,” jawab Justin sambil nyengir, “aku join punya kamu ya ay?”
“Iyaa, aku mau piket dulu,”
“Emang udah jadian?” Tanya Daniel—untuk ke sekian kalinya. Pasalnya setiap Justin memanggil Theo dengan 𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔, 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔, 𝑏𝑎𝑏𝑒 atau semacamnya Daniel hampir selalu menanyakan hubungan keduanya.
Sebenarnya Daniel juga bingung, sahabatnya itu menjalin hubungan dengan siapa diantara ketiga lelaki yang dekat dengannya ini?
Jika bertanya kepada Theo jawaban 'teman' yang selalu ia dapat. Berbeda dengan kembar Jung, mereka akan menjawab 'pacar gue' secara bersamaan.
Namun Daniel juga tidak ingin bertanya lebih jauh, ia akan menunggu Theo menceritakan sendiri tentang perasaannya.
“Udah.” “Enggak.”
Jawaban serempak Justin dan Theo membuat keduanya saling berpandangan.
“Justin cuma bercanda,” ucap Theo kemudian, sebelum mengambil sapu dan mulai membersihkan kelas.
Sedangkan Justin hanya menghela nafas sebelum lanjut menyalin tugas dari buku Theo. Kali ini wajahnya terlihat sedikit murung.
Daniel paham. Sangat paham bagaimana perasaan Justin kepada Theo. Namun tidak banyak yang bisa ia perbuat untuk membantu, ia tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan mereka.
Mungkin nanti Daniel akan sedikit memberikan nasihat kepada Theo untuk tidak bertindak asal dan secara tidak langsung menyakiti Justin ataupun saudara kembarnya yang lain.