confidence

cw // kissing

Mereka semua sampai di villa pukul delapan pagi. Alvaro, Elang, dan Ody langsung merebahkan tubuh di sofa karena lelah menyetir, sedangkan yang lain asik memakan camilan sambil membagi kamar mereka.

“Gua udah pasti sama cewek gua sekamar. Kita di kamar depan ya,” Elang langsung membawa pacarnya masuk ke kamar mereka.

Di susul Kenan yang menarik Dylan agar satu kamar dengannya masuk ke kamar nomor 3, berikutnya Hesa dan Nathan yang menyusul memasuki kamar nomor 4.

Sekarang tinggal Alvaro, Karel, Alex, dan Ody saja di ruang tengah. Alvaro yang awalnya tiduran di atas sofa langsung bangkit dan meraih tangan Karel untuk ia genggam.

“Gua sama karel di kamar 5 ya. Lo berdua mau pisah atau bareng terserah, masih ada dua kamar kosong. Kita duluan bro,”

Karel yang di tarik hanya mengikuti kemana Alvaro membawanya. Tidak lupa ia melambaikan tangan ke arah Alex dan Ody sebagai tanda perpisahan karena ia pergi ke kamar lebih dahulu.


Tangan Alvaro terulur untuk buka pintu kamar nomor 5. Disana terlihat ruangan bernuansa putih dengan satu almari berukuran sedang, kasur queen size, meja nakas, televisi, dan banyak pajangan yang tertempel di dinding. Ada sebuah jendela cukup besar dengan pemandangan pepohonan khas puncak yang terbuka, membuat angin dapat sesuka hati memasuki kamar itu. Alvaro dan Karel melangkah masuk ke dalam kamar, tak lupa Karel tutup pintu sebelum akhirnya berjalan ke kasur dan merebahkan tubuh di sana.

“Nggak mandi dulu?” tas mereka berdua Alvaro simpan di depan lemari sebelum ikut merebahkan diri di sebelah Karel. Badannya terasa pegal pasca menyetir.

“Males Al, dingin” Karel menolehkan pandangannya, menatap Alvaro yang tengah memejamkan mata. “lo sendiri nggak mandi?”

“Males juga, capek banget gua.”

Alvaro yang sedang menutup matanya kaget dan langsung membuka mata saat merasakan ada tangan dan kaki yang memeluk badannya—menjadikan dia guling. Sudah bisa di pastikan pelakunya Karel. Namun selama ini Karel tidak pernah bersikap clingy kepada Alvaro, dan tingkah lakunya kali ini membuat lelaki kelahiran februari itu sedikit heran di balik rasa senangnya.

“Kenapa?” tangan kanan Alvaro yang awalnya ia pakai untuk sandaran kepala di arahkan ke rambut Karel. Mengusap rambut sahabatnya lembut. Karel yang diperlakukan seperti itu menyamankan dekapannya pada tubuh Alvaro, menyembunyikan wajah pada dada bidang yang lebih tinggi.

“Enggak,”

“Kenapa Karel tiba-tiba manja gini hm? Biasanya gua peluk udah marah,” Alvaro tertawa mengingat tingkah Karel yang kadang risih jika dirinya mulai menempeli Karel.

“Al.”

“Apaa sayang?”

“Lo nggak cemburu tadi gua deket-deket Alex?”

“Kalo kata Dilan, cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri,”

“Biasanya lo cemburu, jadi lo nggak percaya diri?”

Alvaro mengangguk, “Gua gak percaya diri apa gua udah bikin lo sesayang itu sama gua, ketergantungan sama gua, bikin lo nggak bisa kalau nggak ada gua. Gua takut ada orang yang bisa bikin lo lebih nyaman daripada gua, bikin lo lebih sayang sama dia dan ninggalin gua.”

Karel mendongak, menatap sahabat kesayangannya hanya untuk lihat bagaimana ekspresi Alvaro. Bagaimana wajah itu tetap tampan di keadaan apapun.

“Sekarang lo udah percaya diri?”

“Iya. Gua percaya Karel yang gua kenal cuma sayang sama gua dan gak akan ninggalin gua.”

“Kenapa gitu? Kalau gua tiba-tiba pergi ninggalin lo gimana?”

“Hmm.. Kalau lo pergi, gua kejar lo sampai dapet, gua iket biar lo gak bisa kabur kemana-mana,” kini Alvaro yang memutar badan ke samping untuk bisa memeluk Karel dengan erat. Memeluk kesayangnya seperti tidak ada mentari yang akan muncul lagi di esok hari. Keduanya terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing. Mengungkapkan rasa sayang lewat pelukan yang mereka berikan satu sama lain.

“I love you, Al.”

“I love you more baby,” bibir tebal milik Alvaro mendarat di kening Karel, mengecupnya cukup lama. Membuat empunya tersenyum dibalik wajahnya yang tersembunyi di dada Alvaro.

Karel tidak pernah merasa sebahagia ini. Merasa aman dan nyaman dalam pelukan orang lain. Ia merasa bersyukur kepada tuhan karena telah mengirimkan Alvaro untuknya. Membantu mengobati luka yang di goreskan oleh orang terdekatnya, oleh ayahnya sendiri yang harusnya bisa menjadi pembimbing keluarga dan pemberi banyak kasih sayang di hidupnya.

Ada pelangi setelah hujan. Kini Karel percaya pepatah itu setelah merasakan bagaimana kupu-kupu beterbangan di perutnya saat ia hanya perlu bersebelahan dengan Alvaro. Tidak ada salahnya mencoba menjalin hubungan dan sedikit menurunkan rasa takutnya. Ia harus mempercayai bahwa Alvaro adalah orang yang baik, Alvaro sangat menyayangi dirinya lebih dari apapun. Alvaro orang yang tepat untuk menjadi rumahnya, menjadi tempatnya pulang, menjadi sandaran ternyamannya. Tempat Karel bisa mengutarakan seluruh keluh kesah dan berbagi bahagia. Karel baru menyadari setelah bertahun-tahun, hatinya telah menemukan tempat untuk berlabuh, hanya saja rasa takut membuatnya terus bersikap egois. Rasa takut itu terus menutupi seluruh kebaikan yang Alvaro berikan untuknya, membuat ia sendiri bingung langkah apa yang harus di ambil.

Karel melepas pelukannya dan bangkit dari posisi tidur. Ia duduk, tubuh atasnya sedikit menindih tubuh Alvaro dengan tangan menyangga di sisi kiri dan kanan wajah Alvaro. Pandangannya fokus menatap mata hitam kelam yang membuatnya jatuh hati untuk kesekian kalinya. Tak lama turun ke bibir tebal pria yang lebih tinggi, bibir yang sering kali mendarat pada pipi dan keningnya.

“Lo mau nggak ciuman sama gua?”

Kalimat yang di ucapkan Karel adalah yang terakhir kali terdengar sebelum akhirnya bibir kedua anak adam itu menempel. Saling memberi kecupan dan berakhir dengan lumatan pada lidah masing-masing. Menyalurkan rasa sayang yang selama ini terpendam melalui sebuah ciuman lembut, dengan angin dingin yang memasuki kamar melalui jendela menjadi saksi bisunya.

©️ writing_jy 22-10-17